Kubah putih
Adzan Isya berkumandang saat aku masih di perjalanan. Langit sudah gelap, udara malam terasa tenang. Aku membuka map dan menemukan sebuah masjid bernama Jami Bahauddin. Tanpa banyak berpikir lagi, aku mengarahkan langkah ke sana.
Ketika tiba, aku sedikit terkejut. Banyak anak kecil sampai hendak remaja, berkumpul di halaman. Sekilas kupikir ini pondok pesantren. Namun beberapa menit kemudian, kulihat beberapa orang tua datang dengan sepeda motor mereka. Dugaan awalku keliru. Ini hanya masjid kampung, sederhana, tetapi hidup.
Aku masuk dan kembali merasa heran. Mayoritas yang mengisi saf adalah anak-anak, mungkin berusia tujuh hingga empat belas tahun. Orang dewasa hanya segelintir menurut ku ini Pemandangan yang sangatlah jarang kutemui.
Iqamah dikumandangkan dengan lantang. shaf dirapikan. Aku berdiri di shaf kedua, dari arah nya aku tepat berdiri di belakang imam. Imam itu lebih pendek dariku. Sempat terlintas pikiran bahwa iamungkin lebih muda. Tapi usia bukan ukuran kepantasan memimpin salat. Yang utama adalah bacaan dan tanggung jawabnya.
Empat rakaat Isya selesai dengan khusyuk. Kami melanjutkan witir, seperti kebiasaan sebagian besar warga Nahdiyin. Setelah salam, beberapa anak di shaf depan berbalik dan mencium tangan orang di belakang mereka. Tradisi kecil yang juga pertama kali aku temui. sontak aku menjadi tantrum.
Tak lama kemudian, salat tarawih dimulai. Imam yang maju kali ini berbeda, la lebih tinggi, suaranya nyaring. Pada rakaat kedua, ia sempat keliru membaca Surah Al Asr. la menggantinya dengan Surah Al kausar, namun kembali terdiam sejenak. Dua detik kemudian, Beberapa makmum membenarkan bacaannya dengan nyaring tetapi serasa berbisik. la lalu melanjutkan bacaan nya. Salat kembali berjalan sebagaimana mestinya.
Sesekali aku menoleh ke sekeliling. Hampir tak ada yang memegang handphone,dan cuma aku,.. Tak terdengar suara tawa,cuma batuk yang di lebih lebihkan. Semua tertib, seolah sudah terbiasa menjaga adab di rumah Allah. Mungkin ini yang disebut kebiasaan baik yang diwariskan tanpa perlu banyak kata.
Dari belakang terlihat tujuh saf terisi rapi. Pembatas menunjukkan area makmum perempuan. bebersoa suara anak anak di luar yang menandakan mereka sedang bermai, tapi suara itu hanya berada di luar, di dalam, suasana terjaga.
Salam witir menjadi penutup malam itu. para makmum mulai keluar perlahan dari masjid, kembali ke rumah mereka. Aku pun melangkah keluar, membawa satu kesan sederhana: mesjid dengan kubah putih itu bukan sekadar bangunan. la menjadi saksi bahwa generasi kecil di kampung ini sedang membuktikan bukan cuma orang tua yang bisa.
Dan malam pun berakhir dengan tenang. jum-20feb-chiefhans
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusbagus ceritanya
BalasHapus