Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Rumah tidak selalu bangunan

Kalimat pertama yang terlintas di pikiranbanyak orang ketika mendengar kata rumah mungkin sederhana: tempat tinggal. Tempat berdiam setelah lelah bekerja. Tempat tidur ketika malam tiba. Itu tidak salah. Namun rasanya belum cukup. Sebab bagi sebagian orang, rumah tidak berhenti pada definisi saja. Rumah bukan hanya sekadar bangunan yang berdiri di atas tanah, dengan dinding yang kokoh dan atap yang melindungi dari hujan. Rumah adalah tempat di mana hati merasa aman. Tempat di mana kita tidak perlu menjelaskan siapa diri kita, karena keberadaan kita sudah diterima apa adanya. Ada orang yang tinggal di rumah sederhana, bahkan mungkin di bawah jembatan, tetapi ia merasa hangat di dalamnya. Bukan karena bangunannya istimewa, melainkan karena di sana ada keluarga yang saling menguatkan. Dunia luar boleh keras, boleh kotor, boleh tidak adil. Namun di dalam ruang kecil itu, ada tawa, ada pelukan, ada rasa cukup. Dan bukankah itu yang sebenarnya dicari? Sebaliknya, ada pula rumah yang besar, e...

Antara iman dan logika

Seorang anak aku yakin,dia dia tidak pernah memilih agama pertamanya. Di saat Ia lahir, lalu dunia menyambutnya dengan nama, bahasa, dan keyakinan. Di pangkuan ayahnya, di bisikan ibunya, agama sudah diperkenalkan bahkan sebelum ia mampu memahami kata apalagi bahasa. Nilai dan norma religius menjadi bagian dari udara yang ia hirup setiap hari. Ketika usianya menginjak tujuh tahun, ia mulai mengenal konsep pahala dan dosa. Ia diberi tahu tentang surga, dan juga tentang neraka. Pada titik inilah pendekatan menjadi penting. Sebagian orang tua mengenalkan agama dengan kelembutan. Sebagian lainnya dengan ancaman. Tidak jarang ibadah diperintahkan dengan nada keras, bahkan disertai hukuman, atas nama tafsir yang diyakini benar. Padahal dalam ajaran itu sendiri, ada ruang kasih sayang. Dalam sujud, seorang hamba disebut berada paling dekat dengan Tuhannya (HR. Muslim, No. 482). Kedekatan seharusnya lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan. Ibadah yang tumbuh dari rasa takut semata sering kali...

Kubah putih

Adzan Isya berkumandang saat aku masih di perjalanan. Langit sudah gelap, udara malam terasa tenang. Aku membuka map dan menemukan sebuah masjid bernama Jami Bahauddin. Tanpa banyak berpikir lagi, aku mengarahkan langkah ke sana. Ketika tiba, aku sedikit terkejut. Banyak anak kecil sampai hendak remaja, berkumpul di halaman. Sekilas kupikir ini pondok pesantren. Namun beberapa menit kemudian, kulihat beberapa orang tua datang dengan sepeda motor mereka. Dugaan awalku keliru. Ini hanya masjid kampung, sederhana, tetapi hidup. Aku masuk dan kembali merasa heran. Mayoritas yang mengisi saf adalah anak-anak, mungkin berusia tujuh hingga empat belas tahun. Orang dewasa hanya segelintir menurut ku ini Pemandangan yang sangatlah jarang kutemui. Iqamah dikumandangkan dengan lantang. shaf dirapikan. Aku berdiri di shaf kedua, dari arah nya aku tepat berdiri di belakang imam. Imam itu lebih pendek dariku. Sempat terlintas pikiran bahwa iamungkin lebih muda. Tapi usia bukan ukuran kepantasan memi...